Minggu, 19 Juli 2026

Tuhan Tidak Berubah (Kekal)

Tuhan tidak berubah, mengapa Tuhan tidak pernah berubah (Kekal) ?

Tuhan adalah Aktualitas Murni, artinya Dia adalah wujud yang sudah sepenuhnya aktual, final, dan tidak memiliki potensi terpendam yang belum terwujud. Jadi, tidak ada alasan bagi-Nya untuk berubah, berinkarnasi atau menjelma. Jika Tuhan menjelma menjadi manusia, berarti terjadi percampuran antara Dzat Tuhan dan dzat manusia. Percampuran ini membutuhkan entitas ketiga yang menyatukan mereka, yang berarti Tuhan menjadi butuh pada faktor luar, ini meruntuhkan status-Nya sebagai Aktualitas Murni yaitu Kesempurnaan mutlak Tuhan; dimana tidak ada lagi potensi yang belum terwujud dalam Diri-Nya. 

Makhluk (ciptaan) memiliki potensi (kemungkinan) untuk berubah atau menjadi sesuatu yang lain, sedangkan Tuhan tidak memiliki potensi pasif karena semua kesempurnaan-Nya sudah terpenuhi secara tak terbatas. Allah Melampaui Ruang dan Waktu, sedangkan perubahan hanya bisa terjadi pada dimensi ruang (tempat) dan waktu (sebelum dan sesudah). Jadi, Allah sebagai Aktualitas Murni, maka Dialah satu-satunya yang berada di luar ruang dan waktu, Dialah satu-satunya yang Maha Kekal/Abadi dan tidak akan pernah berubah.

Dalil Allah tidak berubah (Kekal) di Al-Kitab:

  1. (Mazmur 90:2)
    "Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."
    → Allah sudah ada "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya".
  2. (Yesaya 40:28)
    "Tidakkah kau ketahui, dan tidakkah kau dengar? Tuhan ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu..."
    → Disebut langsung "Allah kekal".
  3. (Ulangan 33:27)
    "Allah yang kekal adalah tempat perlindunganmu, dan di bawah-Nya adalah lengan-lengan yang kekal." → Allah itu Kekal. Tidak berawal, tidak berakhir, tidak berubah.

Dalil Allah tidak berubah (Kekal) di Al-Qur'an:

  1. (QS. Al-Hadid: 3)
    "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin..."
    → Tidak berawal = Al-Awwal. Tidak berakhir = Al-Akhir.
  2. (QS. Al-Qashash: 88)
    "Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Dia."
    → Jelas. Yang tidak binasa hanya Allah.
  3. (QS. Ar-Rahman: 26-27)
    "Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
    Dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
    → Semua fana. Hanya Allah yang Kekal (Baqa’).
  4. (QS. Al-Ikhlas: 2-3)
    "Allah tempat meminta segala sesuatu.
    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan."
    → Karena tidak dilahirkan = tidak berawal. Karena tidak mati = tidak berakhir.

Allah memiliki Kesempurnaan Mutlak. Kekekalan-Nya itulah Kesempurnaan-Nya. Jika Allah menjelma dan mengalami sifat kemanusiaan, maka Allah tunduk pada hukum materi dan perubahan. Sesuatu yang berubah tidak bisa disebut The Absolute (Yang Mutlak) atau Entitas tertinggi yang sempurna secara menyeluruh, mandiri, dan menjadi dasar bagi realitas lainnya. Perubahan mengimplikasikan perpindahan dari kondisi kurang sempurna ke lebih sempurna, atau sebaliknya. Allah Yang Maha Sempurna tidak membutuhkan hal tersebut.

Konsep inkarnasi dalam Kekristenan hampir sama seperti Avatara dalam Hinduisme (Tuhan menjadi manusia; di kekristenan ada Yesus, di hinduisme ada Sri Krisna). Tuhan yang memiliki sifat Mandiri Mutlak tiba-tiba berubah memiliki sifat Fakir (Butuh) yang butuh kepada kodrat manusia. Tuhan yang Mandiri Mutlak telah bergantung dan butuh kepada kodrat manusia (Tuhan kehilangan kemandirian-Nya). Jika Tuhan berubah menjadi butuh itu artinya Dia bukan lagi Tuhan, karena Dia telah kehilangan aktualitas murni-Nya. Jika Tuhan berubah menjadi butuh itu berarti ada ruang bagi-Nya untuk berubah atau dipengaruhi oleh hal di luar diri-Nya yang merusak esensi kesempurnaan-Nya. 

Sesuatu tidak bisa menjadi "Maha Mandiri" sekaligus "Butuh" pada saat yang sama. Jangan berargumentasi bahwa Aktualitas Murni Tuhan tidak hilang (tetap utuh) di dalam keilahian-Nya. Jika Tuhan benar-benar menjadi butuh kepada kodrat manusia seutuhnya, maka Tuhan menjadi bergantung pada ciptaan-Nya sendiri. Sesuatu yang bergantung adalah makhluk (ciptaan), bukan lagi Pencipta (Tuhan).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan dikomentari saudara

Postingan Terpopuler

Sifat Ketuhanan Tidak Pernah Ada Pada Diri Yesus

Sifat Ketuhanan (keilahian) Tidak Pernah Ada Pada Diri Yesus (Nabi Isa). Walaupun berbeda-beda dalam proses penciptaannya namun pada dasarny...