Minggu, 19 Juli 2026

Mungkinkah Tuhan Ada Tanpa Firman-Nya

TUHAN mustahil ada tanpa firman-Nya, karena firman adalah sifat kesempurnaan yang melekat abadi pada Dzat-Nya. Mengatakan TUHAN ada tanpa firman sama saja dengan menganggap TUHAN memiliki kekurangan (seperti bisu atau tidak mampu berkomunikasi), dan hal tersebut mustahil bagi TUHAN.

Mengatakan TUHAN tanpa firman (kalam) sama seperti mengatakan TUHAN tanpa kehendak (iradah), sama seperti mengatakan TUHAN tanpa kuasa (kudrah), sama seperti mengatakan TUHAN tanpa melihat (bashar) dan mendengar (sama'). TUHAN mustahil ada tanpa firman-Nya, mustahil ada tanpa kehendak-Nya, mustahil ada tanpa kuasa-Nya, TUHAN tidak mungkin ada tanpa melihat dan mendengar. Menganggap TUHAN ada tanpa kehendak dan kuasa sama saja dengan menganggap TUHAN tidak mampu untuk menentukan, memilih, menetapkan bahkan tidak mampu menciptakan alam semesta. Menganggap TUHAN ada tanpa melihat dan mendengar sama saja dengan menganggap TUHAN memiliki kekurangan (seperti tidak mampu melihat dan mendengar; rabun, buta atau tuli), dan hal tersebut mustahil bagi TUHAN.

Firman adalah sifat Dzatiyah (melekat abadi)

Dzat Allah = Esensi Allah sendiri

Sifat Dzatiyah = Sifat-sifat yang selalu melekat pada Dzat Allah sejak azali dan tidak pernah lepas.

Sifat Dzatiyah Allah tidak sama dengan sifat mahkluk; Allah berfirman, kita berkata. Tapi cara berfirman/berkata Allah tidak seperti kita. 

''Laisa kamitslihi syaiun'' = Tidak ada yang serupa dengan-Nya (QS. Asy-Syura: 11)

Sifat Wajib: Kalam (berfirman) adalah sifat wajib bagi Allah, sifat ini ada sejak azali (sebelum penciptaan apapun) dan bersifat kekal.

Bukan Tambahan: Firman bukan sesuatu yang baharu (baru) diciptakan atau ditempelkan belakangan pada TUHAN. Dimana ada Dzat TUHAN disitu pasti ada sifat firman-Nya.

Membedakan ''sifat firman'' dan ''penerima firman''

TUHAN tidak membutuhkan mahkluk untuk bisa berfirman. Sifat firman-Nya sudah ada bahkan sebelum manusia, malaikat, atau alam semesta ini diciptakan.

Sebelum mahkluk ada: Firman TUHAN berada pada Dzat-Nya sendiri (Kalam Nafsi) tanpa membutuhkan suara, huruf, atau pendengar.

Setelah mahkluk ada: Firman-Nya disampaikan kepada umat manusia melalui utusan-Nya yang mewujud dalam bentuk bahasa dan teks (Kalam Lafzi, seperti; Al-Quran, Taurat, atau Injil) sehingga bisa ditangkap oleh keterbatasan indra manusia.

Yesus (Nabi Isa) bukan firman yang menjadi manusia

Dzat Allah itu kekal, sifat yang ada pada Dzat-Nya (sifat Dzatiyah) juga kekal, maka oleh karena itu mustahil sifat Dzatiyah berwujud menjadi mahkluk (ciptaan). Firman Allah mustahil berubah menjadi manusia karena Firman (Kalam) Allah adalah sifat Dzatiyah yang kekal.

Tuhan Tidak Berubah (Kekal)

Tuhan tidak berubah, mengapa Tuhan tidak pernah berubah (Kekal) ?

Tuhan adalah Aktualitas Murni, artinya Dia adalah wujud yang sudah sepenuhnya aktual, final, dan tidak memiliki potensi terpendam yang belum terwujud. Jadi, tidak ada alasan bagi-Nya untuk berubah, berinkarnasi atau menjelma. Jika Tuhan menjelma menjadi manusia, berarti terjadi percampuran antara Dzat Tuhan dan dzat manusia. Percampuran ini membutuhkan entitas ketiga yang menyatukan mereka, yang berarti Tuhan menjadi butuh pada faktor luar, ini meruntuhkan status-Nya sebagai Aktualitas Murni yaitu Kesempurnaan mutlak Tuhan; dimana tidak ada lagi potensi yang belum terwujud dalam Diri-Nya. 

Makhluk (ciptaan) memiliki potensi (kemungkinan) untuk berubah atau menjadi sesuatu yang lain, sedangkan Tuhan tidak memiliki potensi pasif karena semua kesempurnaan-Nya sudah terpenuhi secara tak terbatas. Allah Melampaui Ruang dan Waktu, sedangkan perubahan hanya bisa terjadi pada dimensi ruang (tempat) dan waktu (sebelum dan sesudah). Jadi, Allah sebagai Aktualitas Murni, maka Dialah satu-satunya yang berada di luar ruang dan waktu, Dialah satu-satunya yang Maha Kekal/Abadi dan tidak akan pernah berubah.

Dalil Allah tidak berubah (Kekal) di Al-Kitab:

  1. (Mazmur 90:2)
    "Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah."
    → Allah sudah ada "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya".
  2. (Yesaya 40:28)
    "Tidakkah kau ketahui, dan tidakkah kau dengar? Tuhan ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu..."
    → Disebut langsung "Allah kekal".
  3. (Ulangan 33:27)
    "Allah yang kekal adalah tempat perlindunganmu, dan di bawah-Nya adalah lengan-lengan yang kekal." → Allah itu Kekal. Tidak berawal, tidak berakhir, tidak berubah.

Dalil Allah tidak berubah (Kekal) di Al-Qur'an:

  1. (QS. Al-Hadid: 3)
    "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin..."
    → Tidak berawal = Al-Awwal. Tidak berakhir = Al-Akhir.
  2. (QS. Al-Qashash: 88)
    "Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Dia."
    → Jelas. Yang tidak binasa hanya Allah.
  3. (QS. Ar-Rahman: 26-27)
    "Semua yang ada di bumi itu akan binasa,
    Dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan."
    → Semua fana. Hanya Allah yang Kekal (Baqa’).
  4. (QS. Al-Ikhlas: 2-3)
    "Allah tempat meminta segala sesuatu.
    Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan."
    → Karena tidak dilahirkan = tidak berawal. Karena tidak mati = tidak berakhir.

Allah memiliki Kesempurnaan Mutlak. Kekekalan-Nya itulah Kesempurnaan-Nya. Jika Allah menjelma dan mengalami sifat kemanusiaan, maka Allah tunduk pada hukum materi dan perubahan. Sesuatu yang berubah tidak bisa disebut The Absolute (Yang Mutlak) atau Entitas tertinggi yang sempurna secara menyeluruh, mandiri, dan menjadi dasar bagi realitas lainnya. Perubahan mengimplikasikan perpindahan dari kondisi kurang sempurna ke lebih sempurna, atau sebaliknya. Allah Yang Maha Sempurna tidak membutuhkan hal tersebut.

Konsep inkarnasi dalam Kekristenan hampir sama seperti Avatara dalam Hinduisme (Tuhan menjadi manusia; di kekristenan ada Yesus, di hinduisme ada Sri Krisna). Tuhan yang memiliki sifat Mandiri Mutlak tiba-tiba berubah memiliki sifat Fakir (Butuh) yang butuh kepada kodrat manusia. Tuhan yang Mandiri Mutlak telah bergantung dan butuh kepada kodrat manusia (Tuhan kehilangan kemandirian-Nya). Jika Tuhan berubah menjadi butuh itu artinya Dia bukan lagi Tuhan, karena Dia telah kehilangan aktualitas murni-Nya. Jika Tuhan berubah menjadi butuh itu berarti ada ruang bagi-Nya untuk berubah atau dipengaruhi oleh hal di luar diri-Nya yang merusak esensi kesempurnaan-Nya. 

Sesuatu tidak bisa menjadi "Maha Mandiri" sekaligus "Butuh" pada saat yang sama. Jangan berargumentasi bahwa Aktualitas Murni Tuhan tidak hilang (tetap utuh) di dalam keilahian-Nya. Jika Tuhan benar-benar menjadi butuh kepada kodrat manusia seutuhnya, maka Tuhan menjadi bergantung pada ciptaan-Nya sendiri. Sesuatu yang bergantung adalah makhluk (ciptaan), bukan lagi Pencipta (Tuhan).



Postingan Terpopuler

Sifat Ketuhanan Tidak Pernah Ada Pada Diri Yesus

Sifat Ketuhanan (keilahian) Tidak Pernah Ada Pada Diri Yesus (Nabi Isa). Walaupun berbeda-beda dalam proses penciptaannya namun pada dasarny...